Senin, 06 Agustus 2012

Tokoh-tokoh Sosiologi Sebelum Comte

Ada beberapa tokoh yang mengemukakan pendapat mereka tentang sosiologi sebelum Auguste Comte. Auguste Comte dijadikan patokan karena dialah yang pertama kali menggunakan istilah sosiologi dan dialah yang membuat beberapa tokoh lain mengembangkan ilmu sosiologi. Berikut tokoh-tokoh sosiologi sebelum Comte.
  1. Plato (429-347 SM), seorang filusuf Romawi, menyatakan bahwa masyarakat sebenarnya merupakan refleksi dari manusia perorangan. Suatu masyarakat akan mengalami kegoncangan.
  2. Aristoteles (384-322 SM), dalam bukunya Politics, Aristoteles mengadakan suatu analisis mendalam terhadap lembaga-lembaga politik dalam masyarakat. Pengertian politik digunakannya dalam arti luas mencakup juga berbagai masalah ekonomi dan sosial. Aristoteles menggarisbawahi kenyataan bahwa basis masyarakat adalah moral (etika dalam arti sempit).
  3. Ibnu Khaldun (1332-1406), mengemukakan beberapa prinsip pokok untuk menafsirkan kejadian-kejadian sosial dan peristiwa-peristiwa dalam sejarah. Prinsip-prinsip yang sama akan dapat dijumpaii bila ingin mengadakan analisis terhadap timbul tenggelamnya negara-negara. Gejala-gejala yang sama akan terlihat pada kehidupan masyarakat-masyarakat pengembara dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Faktor yang menyebabkan bersatunya manusia dalam suku-suku, klan, negara, dan sebagainya adalah rasa solidaritas. Faktor itulah yang menyebabkan adanya ikatan dan usaha-usaha atau kegiatan-kegiatan bersama antar manusia.  
  4. Zaman Renaissance (1200-1600), seperti Thomas More dengan utopianya dan Campanella yang menulis City of the Sun. Mereka masih sangat terpengaruh oleh gagasan tentang adanya masyarakat yang ideal. N Machiavelli dengan bukunya Il Principle yang menganalisis bagaimana mempertahankan kekuasaan mengajarkan bahwa teori-teori politik dan sosial memusatkan perhatian mekanisme pemerintahan. 
  5. Hoobes (1588-1679), dengan bukunya yang berjudul The Leviathan. Dia beranggapan bahwa secara alamiah, kehidupan manusia didasarkan pada keinginan-keinginan yang mekanis sehingga manusia sering berkelahi. Tapi mereka mempunyai pikiran bahwa hidup damai dan tenteram itu jauh lebih baik. Agar keadaan damai terpelihara, orang-orang harus sepenuhnya mematuhi pihak yang mempunyai wewenang. 
  6. John Locke (1632-1704), mengemukakan bahwa manusia pada dasarnya mempunyai hak-hak asasi yang berupa hak untuk hidup, kebebasan, dan hak atas harta benda. 
  7. J. J. Rousseau (1712-1778), berpendapat bahwa kontrak antara pemerintah dengan yang diperintah menyebabkan tumbuhnya suatu kolektifitas yang mempunyai keinginan-keinginan sendiri, yaitu keinginan umum.Saint Simon (1760-1825)sia hendaknya dipelajari dalam kehidupan berkelompok. Dalam bukunya yang berjudul Memoirs sur la de l’Home, dia menyatakan bahwa ilmu politik merupakan suatu ilmu yang positif. 
  8. Sosiolo1853), adalah yang pertama kali memakai juga orang pertama yang membedakan antara ruang lingkup dan isi sosiologi dari ruang lingkup dan isi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Menurut Comte, ada 3 tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. 
    1. tif, yaitu tahap dimana manusia menafsirkan gejala-gejala di sekelilingnya secara teologis, yaitu dengan kekuatan-kekuatan yang dikendalikan oleh roh dewa-dewa atau Tuhan Yang Masa Kuasa. 
    2. Tahap mimana manusia menganggap bahwa di dalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Pada tahap ini manusia masih terikat oleh cita-cita tanpa verifikasi karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terikat pada suatu realitas tertentu. Tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam. 
    3. Tahap ilmu pengetahuan positif, yaitu bila ilmu pengetahuan tersebut memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang nyata dan konkret, tanpa ada halangan dari pertimbangan-pertimbangan lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar